oleh

BENARKAH KAMU PEMILIH MILLENIAL?

-OPINI-38 views
Gambar: Dr. H. Idham Holik

Oleh: Dr. H. Idham Holik (Komisioner KPU Prov. Jawa Barat)

DMTNews – Banyak komunikator politik sering kali tidak tepat menggunakan istilah Millenial.

Saat ini masih dalam suasana peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, adalah saat yang tepat bagi generasi muda untuk mengenal siapa sebenarnya generasi Millenial itu.

Sebagai salah satu dari ragam generasi pemilih, millenial adalah istilah lain dari Generasi Y. Lalu siapa saja yang termasuk sebagai pemilih generasi millenial.

Untuk memahami hal tersebut, penting untuk mengetahui ragam generasi pemilih lainnya yang kini ada dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) Pemilihan Serentak Lanjutan tahun 2020. Ragam generasi tersebut yaitu:

  1. Traditionalist generation atau silent generation: terlahir di rentang tahun 1928 – 1945 atau di tahun 2020, mereka berusia 75 – 92 tahun. Mereka dibesarkan di masa Perang Dunia II serta perang ideologi di awal atau pra kemerdekaan Indonesia.
  2. Baby boomers : terlahir di rentang tahun 1946 – 1964 atau di tahun 2020 ini, mereka berusia 56 – 73 tahun. Mereka hidup di masa pasca kemerdekaan dan perang ideologi terpresentasi dengan gagasan NASAKOM (Nasionalisme, Sosialisme, Agama, dan Komunisme) Soekarno serta mereka hidup di masa demokrasi terpimpin di masa Orde Lama.
  3. Generasi X: terlahir direntang tahun 1965 – 1980 atau di tahun 2020 ini, mereka berusia 40 – 55 tahun. Mereka hidup di masa akhir pemerintahan Orde Lama dan di awal Orde Baru. Istilah generasi X dirujuk pada novel yang ditulis oleh Daouglas Coupland dengan judul Generation X: Tales for an Accelerated Culture. Mereka hidup di masa asas tunggal Pancasila sebagai asas untuk semua organisasi di Indonesia. Mereka dibesarkan dalam praktek demokrasi Pancasila yang jauh dari nilai demokrasi dan cendrung pada otoritarianisme.
  4. Generasi Y atau Generasi Millenial: terlahir di rentang tahun 1981 – 1996 atau di tahun 2020 ini, mereka berusia 24 – 39 tahun. Mereka berkarakter solidaritas sosial, kebahagiaan bersama, eksistensi diri. Mereka terlahir di masa akhir Perang Dingin yang ditandai dengan runtuhnya Tembok Berlin dan mereka tumbuh di masa gelombang Demokratisasi ke-3 seperti digambarkan oleh buku The End of History and the Last Man (Francis Fukuyama, 1992) dan The Third Wave of Democratization (Sammuel P. Huntington, 1993). Mereka juga menguasai bisnis inovatif dan kreatif dalam e-commerce dan e-raid hailing atau e-ride sharing seperti perusahan digital startup unicorn seperti Bukalapak, GoJek.
  5. Generasi Z: terlahir di rentang tahun 1997 – 2009 atau di tahun 2020, mereka berusia 11 – 23 tahun. Gen Z juga sering disebut sebagai post-millenial generation atau junior millenial generation. Menurut Marc Prensky (2001), mereka adalah digital native (pribumi digital), sedangkan untuk generasi Y dan yang sebelumnya disebut digital immigrant. Generasi Z sangat aktif dalam media sosial (soc-med addict) dan sangat gandrung dalam perangkat teknologi komputasi (gadget freak).
  6. Generasi Alpha: terlahir sejak tahun 2010 hingga saat ini. Di 2020 ini, mereka berusia maksimal 10 tahun. Mereka juga sudah mulai terjebak pada online gaming addict, soc-med addict, dan gadget freak.
    Semoga deskripsi singkat ini menstimulasi rekan-rekan untuk lebih lanjut mendalami perilaku ragam generasi pemilih.

Yang jelas, masa depan demokrasi elektoral Indonesia ada di tangan generasi Millenial atau post-millenial serta generasi alpha. Oleh karena itulah, melek politik (political illeterate) menjadi sesuatu yang bersifat imperatif atau wajib.

Bagi rekan-rekan yang kini berada di daerah Pemilihan Serentak Lanjutan tahun 2020, mari buktikan diri sebagai pemilih berdaulat yang memiliki rasionalitas politik yang baik. Rabu, 9 Desember 2020 akan membuktikan itu semuanya, TPS berprotokol kesehatan menanti kedatangan pemilih semuanya, khususnya pemilih millenial dan post-millenial. Selamat berdemokrasi elektoral.

(***)

Sumber: Halaman Facebook Dr. H. Idham Holik

Komentar

Berita Terkait